Pengertian Penilaian Diagnostik - Eureka Pendidikan (2022)

Eureka Pendidikan. Penilaian diagnostik adalah penilaian yang bertujuan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa serta faktor-faktor penyebabnya (Suwarto, 2012: 134). Pelaksanaan penilaian semacam ini biasanya bertujuan untuk keperluan bimbingan belajar, pengajaran remedial, menemukan kasus-kasus dan lain-lain. Soal-soalnya disusun sedemikian rupa agar dapat ditemukan jenis kesulitan belajar yang dihadapi oleh para siswa.

Apabila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa (Mardapi, 2012: 171). Di samping itu, diketahui pula sebab-sebab kelemahan yang ditimbulkan. Jadi dengan mengadakan penilaian, sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari cara untuk mengatasinya.

Fungsi penilaian diagnostik yaitu untuk mengetahui masalah-masalah yang diderita atau mengganggu peserta didik, sehingga peserta didik mengalami kesulitan, hambatan, atau gangguan ketika mengikuti program pembelajaran dalam suatu bidang studi (Subali, 2012: 138). Kesulitan peserta didik tersebut diusahakan pemecahannya.

Tujuan penilaian diagnostik yaitu, untuk membantu kesulitan atau mengatasi hambatan yang dialami peserta didik waktu mengikuti kegiatan pembelajaran pada suatu bidang studi atau keseluruhan program pembelajaran. Aspek-aspek yang dinilai yaitu hasil belajar yang diperoleh murid, latar belakang kehidupannya, serta semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran. Waktu pelaksanaan tes diagnostik ini, sesuai dengan keperluan pembinaan dari suatu lembaga pendidikan, dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan para peserta didiknya. Berikut dijelaskan tentang tes diagnostik.

a. Deskripsi Tes Diagnostik

Menurut Depdiknas (2007: 3) istilah diagnostik merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi gejala-gejala yang ditimbulkan. Dalam pembelajaran istilah diagnostik dapat dilakukan dalam sebuah tes. Diagnostik pada pembelajaran melingkupi konsep yang luas yang meliputi identifikasi kekuatan dan kelemahan siswa dalam pembelajaran.

Suwarto (2012: 114) menjelaskan tes diagnostik merupakan tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan atau miskonsepsi pada topik tertentu dalam pembelajaran sehingga dari hasil tes didapat masukan tentang respon siswa untuk memperbaiki kelemahannya. Tes diagnostik merupakan rangkaian tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan peserta didik sehingga hasil tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk memberikan tindak lanjut berupa perlakuan yang tepat dan sesuai dengan kelemahan yang dimiliki siswa.

b. Pelaksanaan Tes Diagnostik

Tes diagnostik dilakukan guru sebagai langkah awal dalam menentukan dimana proses belajar mengajar telah atau belum dikuasai. Didalam penggunaannya tes diagnostik berusaha mengungkap karakteristik dan kesulitan apa yang ada dalam pembelajaran sehingga dapat dilakukan upaya untuk mengambil keputusan dalam mencari jalan pemecahan.

Bambang Subali (2012: 23) menjelaskan keputusan melakukan tes diagnostik sebelum pelajaran dimulai pada peserta didik yakni dengan melakukan tes diagnostik pada saat sebelum pembelajaran guru dapat mengambil sikap perlu tidaknya pserta didik diberikan pelajaran ekstra agar mampu menguasai pelajaran yang sesuai prasyarat yang belum dikuasai.

c. Fungsi Tes Diagnostik

Fungsi dilakukannya tes diagnostik digunakan untuk mengidentifikasi masalah atau kesulitan yang dialami siswa, kemudian melakukan perencanaan terhadap tindak lanjut yang berupa upaya-upaya pemecahan sesuai masalah atau kesulitan yang telah teridentifikasi.

(Video) Pentingnya Asesmen Diagnosis di Awal Pembelajaran

Tes diagnostik dirancang untuk mendeteksi kesulitan hasil belajar peserta didik sehingga dalam menyusun tes diagnostik harus didesain sesuai dengan format dan respon yang dimiliki oleh tes diagnostik. Selain itu tes diagnostik dikembangkan berdasar analisis terhadap sumber-sumber kesalahan atau kesulitan yang mungkin menjadi penyebab munculnya masalah siswa, penggunaan soal-soal tes diagnostik berbentuk supply response (bentuk uraian atau jawaban singkat), sehingga mampu menangkap informasi secara lengkap.

Jika terdapat alasan tertentu sehingga menggunakan bentuk selected response (misalnya bentuk pilihan ganda), harus disertakan penjelasan mengapa memilih jawaban tertentu sehingga dapat meminimalisir jawaban tebakan, dan dapat ditentukan tipe kesalahan atau masalahnya, serta tahap akhir disertai tahapan penyelesaian terhadap hasil diagnostik yang telah teridentifikasi.

d. Prosedur Pengembangan Tes Diagnostik

Suwarto (2012: 125) menyebutkan tes diagnostik dapat dilakukan dengan beberapa prosedur pengetesan diagnostik diantaranya:

  1. Harus ada analisis tertentu untuk kaidah, prinsip, pengetahuan, atau keterampilan yang hendak diukur
  2. Tes diagnostik yang baik direncanakan dan disusun mencakup setiap kaidah dan prinsip dan diujikan dengan cara yang sama
  3. Butir soal yang digunakan untuk tes diagnostik disusun secara berkelompok hal ini dilakukan untuk mempermudah analisis dan diagnostik.

Sedangkan menurut Depdiknas (2007: 6) menunjukkan langkah-langkah pengembangan tes diagnostik.

a. Mengidentifikasi kompetensi dasar yang belum tercapai ketuntasannya

Dalam tes diagnostik mengacu pada kesulitan untuk mencapai kompetensi dasar, karena itu sebelum menyusun tes diagnostik harus diidentifikasi terlebih dahulu kompetensi dasar manakah belum tercapai tersebut. Untuk mengetahui tercapainya suatu kompetensi dasar dapat dilihat dari munculnya sejumlah indikator, karena itu bila suatu kompetensi dasar tidak tercapai, perlu dilakukan diagnosis indikator-indikator mana saja yang tidak mampu dimunculkan. Mungkin saja masalah hanya terjadi pada indikator-indikator tertentu, maka cukup pada indikator-indikator itu saja disusun tes diagnostik yang sesuai.

b. Menentukan kemungkinan sumber masalah

Setelah kompetensi dasar atau indikator yang bermasalah teridentifikasi, mulai ditemukan (dilokalisasi) kemungkinan sumber masalahnya. Dalam pembelajaran sains, terdapat tiga sumber utama yang sering menimbulkan masalah, yaitu: a) tidak terpenuhinya kemampuan prasyarat; b) terjadinya miskonsepsi; dan c) rendahnya kemampuan memecahkan masalah (problem solving). Di samping itu juga harus diperhatikan hakikat sains yang memiliki dimensi sikap, proses, dan produk. Sumber masalah bisa terjadi pada masing-masing dimensi tersebut.

c.Menentukan bentuk dan jumlah soal yang sesuai

Dalam menentukan kesulitan yang dialami siswa, maka perlu dipilih alat diagnosis yang tepat berupa butir-butir tes diagnostik yang sesuai. Butir tes tersebut dapat berupa tes pilihan, esai (uraian), maupun kinerja (performance) sesuai dengan sumber masalah yang diduga dan pada dimensi mana masalah tersebut terjadi.

d. Menyusun kisi-kisi soal

Sebagaimana ketika mengembangkan jenis tes yang lain, maka sebelum menulis butir soal dalam tes diagnostik harus disusun terlebih dahulu kisi-kisinya. Kisi-kisi tersebut setidaknya memuat: a) kompetensi dasar beserta indikator yang diduga bermasalah; b) materi pokok yang terkait; c) dugaan sumber masalah; d) bentuk dan jumlah soal; dan e) indikator soal.

(Video) Cara Melakukan Asesmen Diagnostik, Formatif dan Sumatif

e. Menulis soal

Sesuai kisi-kisi soal yang telah disusun kemudian ditulis butir-butir soal. Soal tes diagnostik tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan butir soal tes yang lain. Jawaban atau respons yang diberikan oleh siswa harus memberikan informasi yang cukup untuk menduga masalah atau kesulitan yang dialaminya (memiliki fungsi diagnosis).

Pada soal uraian, logika berpikir siswa dapat diketahui guru dari jawaban yang ia tulis, tetapi pada soal pilihan guru kurang dapat mengungkap kelemahan siswa, karena soal tes pilihan rentang terhadap tebakan. Karena itu siswa perlu menyertakan alasan atau penjelasan ketika memilih option (alternatif jawaban) tertentu.

f. Mereview soal

Butir soal yang baik tentu memenuhi validitas isi, untuk itu soal yang telah ditulis harus divalidasi oleh seorang pakar di bidang tersebut. Bila soal yang telah ditulis oleh guru tidak memungkinkan untuk divalidasi oleh seorang pakar, soal tersebut dapat direviu oleh guru-guru sejenis dalam MGMPS atau setidaknya oleh guru-guru mapel serumpun dalam satu sekolah.

g. Menyusun kriteria penilaian

Jawaban atau respon yang diberikan oleh siswa terhadap soal tes diagnostik tentu bervariasi, karena itu untuk memberikan penilaian yang adil dan interpretasi diagnosis yang akurat harus disusun suatu kriteria penilaian, apalagi bila tes yang sama dilakukan oleh guru yang berbeda atau dilakukan oleh lebih dari satu orang guru.

Kriteria penilaian memuat rentang skor yang menggambarkan pada rentang berapa saja siswa didiagnosis sebagai mastery (tuntas) yaitu sudah menguasai kompetensi dasar atau belum mastery yaitu belum menguasai kompetensi dasar tertentu, atau berupa rambu-rambu bahwa dengan jumlah type error (jenis kesalahan) tertentu siswa yang bersangkutan dinyatakan ber”penyakit” sehingga harus diberikan perlakuan yang sesuai.

Macam-macam tes diagnostik yang dapat digunakan diantaranya:

  1. Tes diagnostik dengan instrumen pilihan ganda
  2. Tes diagnostik dengan instrumen pilihan ganda yang disertai alasan
  3. Tes diagnostik dengan instrumen pilihan ganda yang disertai pilihan alasan
  4. Tes diagnostik dengan instrumen pilihan ganda dan uraian
  5. Tes diagnostik dengan instrumen uraian

Secara garis besar posisi tes diagnostik menduduki kapasitas dalam memantau kemajuan belajar siswa, dengan melakukan tes formatif. Tes ini disusun untuk mengukur ketuntasan belajar atau ketuntasan kompetensi minimal (KKM). Apabila dari hasil tes formatif tersebut diketahui ada siswa yang belum tuntas, maka guru melakukan tes untuk mendiagnosis kemungkinan-kemungkinan sumber masalah¬nya. Tes ini dalam diagram Gambar 2 diberi nama tes diagnostik Tipe A.

Di samping tes diagnostik Tipe A, terdapat tes diagnostik tipe lain yang dilakukan tanpa didahului oleh tes formatif. Dugaan atas kemungkinan-kemungkinan sumber masalah muncul berdasarkan pengalaman guru. Tes diagnostik semacam ini dalam diagram Gambar 2 disebut tes diagnostik Tipe B.

(Video) Diagnostic Assessment: Examples & Overview

Pemberian tipe pada tes diagnostik dalam Gambar 2 sama sekali bukan menunjukkan tingkat prioritasnya. Bukan berarti tes diagnostik Tipe A lebih baik atau lebih penting dari Tipe B, atau Tipe A harus dilakukan sebelum Tipe B. Keduanya memiliki fungsi sama, dan guru bebas memilih mana yang akan dilaksanakan sesuai kondisi dan kebutuhan.

Dalam pembuatan kisi-kisi pencantuman komponen-komponen di atas bukan merupakan suatu yang baku, yang harus seperti itu. Penyusun kisi-kisi dapat mengurangi atau menambah komponen tersebut sesuai keperluan atau tujuan tes.

Dalam ulangan yang sifatnya formatif kisi-kisi tidak perlu dirumuskan. Yang penting soal-soal yang dibuat harus memiliki keterkaitan kuat dengan indikator hasil belajar yang telah dirumuskan atau yang dipilih dari silabus yang diacu.

h. Penskoran dan Penafsiran Tes Diagnostik

Kegiatan penskoran diperlukan karena sesuatu yang diukur dengan tes diagnostik merupakan besaran non fisis yang tidak dapat diukur secara langsung sebagaimana kita mengukur panjang kayu menggunakan mistar.

Penskoran tes diagnostik secara prinsip tidak berbeda dengan penskoran pada tes-tes yang lain, tetapi membutuhkan penelusuran dan interpretasi respons yang lebih cermat karena harus menemukan fungsi diagnostik.

i. Menindaklanjuti Hasil Tes Diagnostik

Kegiatan guru menindaklanjuti hasil tes diagnostik siswanya, analog dengan kegiatan pengobatan oleh dokter kepada seorang pasien setelah dilakukan serangkaian diagnosis.

Tindak lanjut tersebut berupa perlakuan-perlakuan yang sesuai dengan permasalahan atau kesulitan yang dihadapi siswa. Ibarat pemberian obat, dosisnya tidak boleh terlalu rendah atau terlalu tinggi, apalagi sampai salah memberikan obat. Karena hal yang demikian justru akan memperberat atau menimbulkan masalah baru bagi siswa.

Di bawah ini diuraikan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar dapat menindaklanjuti hasil tes diagnostik dengan baik.

(Video) Summative Assessment: Overview & Examples

  1. Kegiatan tindak lanjut dilakukan betul-betul berdasarkan hasil analisis tes diagnostik secara cermat. Tindak lanjut tidak selalu berupa kegiatan remidial di kelas, tetapi dapat juga berupa tugas rumah, observasi lingkungan, kegiatan tutor sebaya, dan lain-lain sesuai masalah atau kesulitan yang dihadapi siswa. Kegiatan tidak lanjut juga tidak selalu dilakukan secara individu, tetapi dapat juga dilakukan secara kelompok bergantung pada karakteristik masalah yang dihadapi siswa.
  2. Mengatasi permasalahan yang disebabkan oleh miskonsepsi membutuhkan kesa¬baran, keuletan, dan kecerdasan guru. Penelitian Berg (1991) menunjukkan bahwa miskonsepsi sulit bila hanya diatasi melalui informasi atau penjelasan, oleh karena itu perlu dirancang aktivitas atau pengamatan secara langsung untuk memperbaikinya.
  3. Kegiatan tindak lanjut diberikan secara bertahap dan berkelanjutan. Tes diagnostik pada hakikatnya merupakan bagian dari ulangan harian, maka pelaksanaannya juga perlu diatur sehingga tidak tumpang tindih (overlapping) dan tidak memberatkan siswa maupun guru.
  4. Perlu dirancang program sekolah yang mendukung dan memberikan kemudahan bagi guru untuk mengadministrasi, melaporkan, dan menindak-lanjuti hasil tes diagnostik, misalnya penyediaan sarana dan tenaga teknis, pemberian insentif atau penghargaan, dan program-program lain yang mendukung profesionalitas guru, misalnya lokakarya, workshop, dan penelitian yang mengangkat hasil-hasil tes diagnostik. Selain untuk evaluasi di sekolah, bila memungkinkan hasil analisis tes diagnostik juga dikirimkan atau dilaporkan kepada orang tua siswa, sehingga secara bersama-sama dapat membantu siswa dalam memecahkan masalahnya.

Sumber Bacaan:

Badan Standar Nasional Pendidikan. (2007). Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan.

Basuki, Ismet & Hariyanto. Asesmen Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Frey, Nancy & Fisher Douglas. 2011. The formative Assessment Action Plan. United States of America: ASCD.

Mardapi, Djemari. 2012. Pengukuran Penilaian dan Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Nuha Medika

Nitko & Brookhart. 2011. Educational Assessment of Students. 6thEdition. United State od Amerika: Pearson

Rosana, Dadan. 2014. Evaluasi Pembelajaran Sains. Yogyakarta

Subali, Bambang. Prinsip Assesmen dan Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: UNY Press

(Video) Formative vs. Summative vs. Diagnostic Assessment

Suwarto. 2013. Pengembangan Tes Diagnostik dalam Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sukmayadi Vidi. 2014. Mengembangkan Tes Penempatan Bagi Siswa BIPA. Bandung. Universitas Pendidikan Bandung

FAQs

Jelaskan apa yang dimaksud dengan penilaian diagnostik? ›

Asesmen Diagnostik merupakan penilaian/asesmen yang dilakukan secara spesifik dengan tujuan untuk mengidentifikasi atau mengetahui karakteristik, kondisi kompetensi, kekuatan, dan kelemahan model belajar peserta didik sehingga pembelajaran dapat dirancang sesuai dengan kompetensi dan kondisi peserta didik yang beragam.

Apa tujuan dari tes diagnostik? ›

Mengacu dua pengertian terakhir, maka tes diagnostik memiliki dua fungsi utama, yaitu: mengidentifikasi masalah atau kesalahan yang dialami siswa dan merencanakan tindak lanjut berupa upaya-upaya pemecahan sesuai masalah atau kesalahan yang telah teridentifikasi.

Asesmen diagnostik ada berapa? ›

Asesmen Diagnostik atau penilaian diagnostik yang sering dilaksanakan ada dua jenis, yaitu asesmen non kognitif dan asesmen kognitif.

Jelaskan apa yang dimaksud dengan diagnostik? ›

Diagnosis atau diagnosa adalah penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti (memeriksa) gejala-gejalanya. Sementara itu, dalam sosiologi, diagnosis atau diagnosa adalah pemeriksaan terhadap suatu hal. Jadi, singkatnya diagnosis atau diagnosa adalah identifikasi mengenai sesuatu.

Mengapa siswa harus menjawab soal asesmen diagnostik? ›

Tujuan dilakukan asesmen diagnosis adalah untuk memetakan kemampuan semua siswa di kelas secara cepat, mengetahui siswa yang sudah paham, agak paham, dan siapa saja yang belum paham. Dengan demikian guru dapat menyesuaikan materi pembelajaran dengan kemampuan siswa.

Kapan sebaiknya evaluasi diagnostik dilakukan? ›

Diagnostik biasanya dilakukan pada awal pengajaran, awal tahun ajaran atau semester. Tujuan evaluasi diagnostik salah satunya adalah guna menentukan tingkat pengetahuan awal siswa.

Langkah-langkah penyusunan asesmen pembelajaran? ›

Langkah-langkah Pokok Assessment
  1. Menyusun rencana assessment.
  2. Mengumpulkan data.
  3. Melakukan Verifikasi.
  4. Mengolah dan menganalisa data.
  5. Melakukan penafsiran / interprestasi dan menarik kesimpulan.
  6. Menyimpan instrumen dan hasil assessment.
  7. Menindak lanjuti hasil assessment.
Apr 12, 2022

Langkah-langkah asesmen diagnostik non kognitif? ›

Asesmen diagnosis non kognitif melalui beberapa tahapan, mulai persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut.
  1. Persiapan. a. Siapkan alat bantu berupa gambar ekspresi emosi. ...
  2. Pelaksanaan. a. Berikan gambar emosi kepada siswa. ...
  3. Tindak Lanjut. a. Identifikasi siswa dengan ekspresi emosi negatif dan ajak berdiskusi empat mata.
Jul 14, 2021

Apa itu tes diagnostik dan contohnya? ›

Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa ketika mempelajari sesuatu, sehingga hasilnya dapat digunakan sebagai dasar memberikan tindak lanjut. Tes ini dapat berupa sejumlah pertanyaan atau permintaan untuk melakukan sesuatu.

Jelaskan apa yang dimaksud dengan diagnosis kesulitan belajar? ›

Diagnosis kesulitan belajar merupakan proses menentukan masalah atas ketidakmampuan peserta didik dalam belajar dengan meneliti latar belakang penyebabnya dan atau dengan cara menganalisis gejala-gejala kesulitan atau hambatan belajar yang nampak.

Mengapa seorang guru harus melakukan asesmen hasil belajar pada siswanya? ›

Abstract. Penilaian atau asesmen merupakan hal yang penting dalam pembelajaran, sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Asesmen apapun itu menjadi sangat penting karena bertujuan untuk mengetahui ketercapaian suatu pembelajaran.

Apa arti penting guru melakukan asesmen pembelajaran? ›

Manfaat asesmen pembelajaran adalah untuk memberikan penjelasan secara lengkap tentang target pembelajaran yang dapat menggambarkan hal-hal seperti; bagaimana tingkat pengetahuan siswa, informasi yang dibutuhkan tentang pengetahuan, keterampilan, dan performa siswa.

Kapan evaluasi sumatif dilakukan? ›

Evaluasi atau tes sumatif dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok program atau Page 3 190 sebuah program yang lebih besar. Tes sumatif dapat dilaksanakan dengan ujian akhir semester (UAS). Tes dalam rangka pendidikan digunakan untuk memperoleh bukti tentang taraf keberhasilan proses belajar mengajar.

Apa saja tahapan evaluasi? ›

Tahapan Evaluasi
  • Menentukan Aspek yang Akan Dievaluasi. Sebuah kegiatan atau program pasti dilaksanakan dengan melibatkan berbagai aspek atau komponen yang saling mendukung. ...
  • Mendesain Kegiatan Evaluasi yang Akan Dilakukan. ...
  • Mengumpulkan Data Evaluasi. ...
  • Menganalisis dan Mengolah Data. ...
  • Melaporkan Hasil Evaluasi.
Feb 6, 2020

Apa tujuan utama dari evaluasi pembelajaran? ›

Dengan demikian, tujuan evaluasi adalah untuk memperbaiki cara, pembelajaran, mengadakan perbaikan dan pengayaan bagi peserta didik, serta menempatkan peserta didik pada situasi pembelajaran yang lebih tepat sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimilikinya.

Langkah-langkah dalam melaksanakan asesmen kompetensi? ›

Menetapkan dan memelihara lingkungan asesmen
  1. lakukan interpretasi rebcaba asesmen dan konfirmasikan sesuai dengan konteks dan tujuan asesmen.
  2. Akses dan lakukan interpretasi acuan pembanding dan perangkat asesmen yang dinominasikan.
Jan 9, 2019

Langkah merencanakan aktivitas dan proses asesmen? ›

Merencanakan Aktivitas Dan Proses Asesmen | PDF.
...
  1. Menganalisis Unit Kompetensi Dan Persyaratan. Asesmen untuk Mengidentifikasi Bukti Dan. Jenis Bukti sesuai Aturan Bukti.
  2. Memilih Metode dan Instrumen Asesmen. untuk mendukung pengumpulan bukti.
  3. Mengembangkan dan menyetujuhi Rencana.

Langkah-langkah asesmen bimbingan konseling? ›

Berikut ini adalah langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan asesmen:
  1. Perencanaan. Aspek yang harus ada dalam perencanaan asesmen adalah: ...
  2. Pelaksanaan. Setelah perencanaan asesmen selesai, selanjutnya adalah bagaimana melaksanakan rencana yang telah dibuat tersebut. ...
  3. Analisis data. ...
  4. Interpretasi data.
Jan 29, 2012

Apa itu asesmen diagnostik non kognitif? ›

Asesmen diagnostik non kognitif ditujukan untuk mengukur aspek psikologis dan kondisi emosional peserta didik. Asesmen diagnostik non kognitif lebih mengutamakan pada kesejahteraan psikologi dan sosial emosi peserta didik.

Apa itu asesmen diagnostik kognitif? ›

Asesmen Diagnosis Kognitif adalah asesmen diagnosis yang dapat dilaksanakan secara rutin, pada awal ketika guru akan memperkenalkan sebuah topik pembelajaran baru, pada akhir ketika guru sudah selesai menjelaskan dan membahas sebuah topik, dan waktu yang lain selama semester (Pusmenjar, 2021).

Apa itu tes diagnostik kognitif? ›

Cognitive diagnostic assessment (CDA) atau penilaian diagnosis kognitif untuk pendidikan disusun untuk mengukur struktur pengetahuan secara khusus dan proses kemampuan siswa untuk menyediakan informasi tentang kelemahan dan kekuatan kognitif mereka.

Langkah-langkah penting dalam melakukan asesmen? ›

Di bawah ini langkah-langkah penting dalam melakukan assesmen, kecuali?
  1. menentukan tujuan penilaian.
  2. memperhatikan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (K.
  3. .
  4. menentukan jenis alat ukurnya, yaitu tes atau non-tes atau keduanya.
  5. menyusun kisi-kisi tes dan pedoman penskorannya.
Sep 9, 2021

Langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan asesmen kognitif? ›

Tahap ini mencakup empat langkah:
  1. Lakukan pengolahan hasil asesmen.
  2. Berdasarkan hasil penilaian, bagi siswa menjadi 3 kelompok.
  3. Lakukan penilaian pembelajaran topik yang sudah diajarkan sebelum memulai topik pembelajaran baru.
  4. Ulangi proses yang sama, sampai siswa mencapai tingkat kompetensi yang diharapkan.
Oct 26, 2020

Tes diagnostik merupakan rangkaian tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan peserta didik sehingga hasil tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk memberikan tindak lanjut berupa perlakuan yang tepat dan sesuai dengan kelemahan yang dimiliki siswa.. Harus ada analisis tertentu untuk kaidah, prinsip, pengetahuan, atau keterampilan yang hendak diukur Tes diagnostik yang baik direncanakan dan disusun mencakup setiap kaidah dan prinsip dan diujikan dengan cara yang sama Butir soal yang digunakan untuk tes diagnostik disusun secara berkelompok hal ini dilakukan untuk mempermudah analisis dan diagnostik.. g. Menyusun kriteria penilaian Jawaban atau respon yang diberikan oleh siswa terhadap soal tes diagnostik tentu bervariasi, karena itu untuk memberikan penilaian yang adil dan interpretasi diagnosis yang akurat harus disusun suatu kriteria penilaian, apalagi bila tes yang sama dilakukan oleh guru yang berbeda atau dilakukan oleh lebih dari satu orang guru.. Tes diagnostik dengan instrumen pilihan ganda Tes diagnostik dengan instrumen pilihan ganda yang disertai alasan Tes diagnostik dengan instrumen pilihan ganda yang disertai pilihan alasan Tes diagnostik dengan instrumen pilihan ganda dan uraian Tes diagnostik dengan instrumen uraian. Perlu dirancang program sekolah yang mendukung dan memberikan kemudahan bagi guru untuk mengadministrasi, melaporkan, dan menindak-lanjuti hasil tes diagnostik, misalnya penyediaan sarana dan tenaga teknis, pemberian insentif atau penghargaan, dan program-program lain yang mendukung profesionalitas guru, misalnya lokakarya, workshop, dan penelitian yang mengangkat hasil-hasil tes diagnostik.

Dalam dunia pendidikan yang semuanya harus akuntabel, sebuah justifikasi harus didasari oleh suatu data dan harus memiliki tujuan.. Justifikasi tanpa memberikan nilai edukasi tidak akan sesuai dengan tujuan dari pendidikan oleh karena suatu proses penilaian hendaknya bermakna lebih baik daripada sekedar mengelompokkan peserta didik berdasarkan kemampuan yang mereka miliki.. Dalam sebuah proses penilaian ada beberapa langkah yang harus ditempuh agar memberikan penilaian yang lebih bermakna dan otentik.. Tujuan edukasi dari proses penilaian harus dapat dimanfaatkan oleh peserta didik, guru dan pengambilan kebijakan pendidikan yang berkaitan dengan perkembangan peserta didik.. Sebuah proses penilaian harus disesuaikan dengan proses yang diberikan selama proses pembelajaran, meskipun terdapat banyak nilai lebih yang didapatkan oleh peserta didik setelah melakukan proses pembelajaran namun penilaian tanpa didasari tujuan dari proses pembelajaran akan menghasilkan penelitian yang bias.. memperhatikan persyaratan penyusunan tes tertulis, baik dari aspek materi/isi/konsep, konstruksi, maupun bahasa; mengacu pada indikator pencapaian; memilih bentuk butir yang sesuai dengan indikator, misalnya bentuk isian, uraian, pilihan ganda atau lainnya; membuat kunci jawaban dan/atau pedoman penskoran.. c. Penyusunan wawancara Langkah–langkah menyusun pedoman wawancara adalah sebagai berikut.. a. Telaah Instrumen Secara Kualitatif Analisis instrumen secara kualitatif dilakukan dengan menelaah atau mereviu instrumen penilaian yang telah dibuat.. Telaah secara kualitatif mencakup aspek materi, aspek konstruksi, dan aspek bahasa.. Aspek bahasa berkaitan dengan tingkat komunikatif atau kejelasan hal yang ditanyakan dalam instrumen.. Selanjutnya, berdasarkan hasil telaah tersebut dilakukan revisi terhadap butir instrumen yang kurang baik.. Butir tes yang memenuhi syarat sebagai butir tes beracuan kriteria adalah butir yang tidak dapat dikerjakan sebelum proses pembelajaran tetapi berhasil dikerjakan peserta didik setelah proses pembelajaran.. Penilaian melalui ulangan dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis dan/atau tes praktik tergantung pada karakteristik mata pelajaran.. Hasil penilaian terhadap akhlak peserta didik akan dijadikan pertimbangan pada saat guru mata pelajaran pendidikan agama menentukan nilai akhlak peserta didik untuk dilaporkan pada buku laporan pendidikan atau rapor.. Demikian pula, hasil penilaian terhadap kepribadian peserta didik juga akan dijadikan pertimbangan pada saat guru mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk menentukan nilai kepribadian peserta didik untuk dilaporkan pada buku laporan pendidikan atau rapor.

Selain itu banyak instansi yang juga menggunakan praktek untuk psikologi diagnostik ini dalam mengoptimalkan masalah individu yang ada.. Itulah beberapa cara kerja dari psikologi diagnostik yang dapat dipilih salah satu untuk memahami kelebihan dan kekurangan karakter individu.. Salah satu manfaat dari psikologi diagnostik adalah adalah untuk meneliti kelebihan yang ada pada diri seorang individu, agar kelebihan yang selama ini tidak diketahui menjadi diketahui.. Dalam manfaat psikologi diagnostik ini dengan mengetahui kelemahan individu maka dapat membantu individu untuk berusaha menonjolkan kelebihan yang dimilikinya, sehingga kelemahan individu dapat diatasi dengan baik.. Dengan itu diharapkan individu yang mengalami kesulitan dalam bekerja sama dapat terbantu dengan diberikan pekerjaan yang sesuai dengan kelebihannya saja.. Manfaatnya adalah untuk dapat melakukan seleksi dari semua calon karyawan yang mendaftar yang mana kelebihan karyawan yang dirasa diperlukan oleh perusahaan.. Sedangkan untuk orang yang pendiam mungkin lebih cocok untuk profesi yang berada dibelakang layar atau profesi yang lebih banyak menggunakan komputer dalam menyelesaikan pekerjaan yang ada.. Salah satu contohnya adalah seseorang dengan kemampuan bicara yang andal maka teman kerjasama yang cocok untuk dia adalah orang yang juga memiliki kemampuan bicara yang handa.. Dengan adanya psikologi diagnostik ini diharapkan dapat membantu petugas sosial untuk memahami karakter setiaporang yang ditemui sehingga dapat memperlakukan mereka sesuai dengan kepribadian yang merka miliki.

Suwarto (2012: 114) menjelaskan tes diagnostik merupakan tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan atau miskonsepsi pada topik tertentu dalam pembelajaran sehingga dari hasil tes didapat masukan perihal respon siswa untuk memperbaiki kelemahannya.. Tes diagnostik merupakan rangkaian tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan penerima didik sehingga hasil tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk memperlihatkan tindak lanjut berupa perlakuan yang sempurna dan sesuai dengan kelemahan yang dimiliki siswa.. Bambang Subali (2012: 23) menjelaskan keputusan melaksanakan tes diagnostik sebelum pelajaran dimulai pada penerima didik yakni dengan melaksanakan tes diagnostik pada ketika sebelum pembelajaran guru dapat mengambil sikap perlu tidaknya pserta didik diberikan pelajaran ekstra biar bisa menguasai pelajaran yang sesuai prasyarat yang belum dikuasai.. c. Fungsi Tes Diagnostik Fungsi dilakukannya tes diagnostik digunakan untuk mengidentifikasi duduk perkara atau kesulitan yang dialami siswa, kemudian melaksanakan perencanaan terhadap tindak lanjut yang berupa upaya-upaya pemecahan sesuai duduk perkara atau kesulitan yang telah teridentifikasi.. Tes diagnostik dirancang untuk mendeteksi kesulitan hasil berguru penerima didik sehingga dalam menyusun tes diagnostik harus didesain sesuai dengan format dan respon yang dimiliki oleh tes diagnostik.. Harus ada analisis tertentu untuk kaidah, prinsip, pengetahuan, atau keterampilan yang hendak diukur Tes diagnostik yang baik direncanakan dan disusun mencakup setiap kaidah dan prinsip dan diujikan dengan cara yang sama Butir soal yang digunakan untuk tes diagnostik disusun secara berkelompok hal ini dilakukan untuk mempermudah analisis dan diagnostik.. c.Menentukan bentuk dan jumlah soal yang sesuai Dalam menentukan kesulitan yang dialami siswa, maka perlu dipilih alat diagnosis yang sempurna berupa butir-butir tes diagnostik yang sesuai.. g.Menyusun kriteria penilaian Jawaban atau respon yang diberikan oleh siswa terhadap soal tes diagnostik tentu bervariasi, karena itu untuk memperlihatkan penilaian yang adil dan interpretasi diagnosis yang akurat harus disusun suatu kriteria penilaian, apalagi bila tes yang sama dilakukan oleh guru yang berbeda atau dilakukan oleh lebih dari satu orang guru.. h. Penskoran dan Penafsiran Tes Diagnostik Kegiatan penskoran diharapkan karena sesuatu yang diukur dengan tes diagnostik merupakan besaran non fisis yang tidak dapat diukur secara pribadi sebagaimana kita mengukur panjang kayu menggunakan mistar.. Perlu dirancang jadwal sekolah yang mendukung dan memperlihatkan akomodasi bagi guru untuk mengadministrasi, melaporkan, dan menindak-lanjuti hasil tes diagnostik, misalnya penyediaan sarana dan tenaga teknis, sumbangan insentif atau penghargaan, dan program-program lain yang mendukung profesionalitas guru, misalnya lokakarya, workshop, dan penelitian yang mengangkat hasil-hasil tes diagnostik.

Psikodiagnostik dalam aspek praktis adalah metode diagnosis psikologis untuk memperlakukan klien dengan tepat sesuai dengan konsep diri dalam psikologis yang dimiliki Psikodiagnostik dalam aspek teoritis adalah studi ilmiah menggunakan berbagai metode guna membuat diagnosis psikologis agar dapat memperlakukan klien lebih tepat.. Memperoleh informasi individu tentang perkembangan intlektual, kepribadian, sosial ataupun emosional sehingga memahami perkembangan individu dengan optimal Mengetahui kelemahan dan keunggulanm individu agar hidupnya dapat dimaksimalkal Memahami individu sehingga keluarga mendapatkan informasi bagaimana cara memperlakukan individu tersebut dengan tepat Untuk penjurusan pendidikan dan penempatan kerja yang sesuai Bimbingan konseling apabila ada masalah Bahan proses terapi apabila dibutuhkan. Segala macam tes yang ada di bidang pendidikan hampir seluruhnya dapat ditelaah dengan psikodiagnostik, misalnya tes inteligensi, tes bakat khusus, tes bakat umum maupun tes kepribadian yang dapat dijumpai dalam sebuah laporan seorang konselor pendidikan ataupun psikolog pendidikan.. General Achievement Batteries yang berfungsi dalam mengukur prestasi pendidikan pada bidang yang terdapat dalam kurikulum pendidikan.. Aplikasi observasi dalam bidang pendidikan adalah lingkungan sekolah dipandang sebaagi fungsi sosial pendidikan, lingkungan spesial, pengelolaan kelas, pemahaman sikap, perencanaan pengajaran dan aktivitas yang meningkatkan inisiatif dan membentuk perilaku.

B. Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi. Dalam contoh 1 diatas, jika kita mempunyai pengaris, maka untuk menentukan pensil mana yang lebih panjang maka kita akan mengukur kedua pensil tersebut dengan menggunakan pengaris kemudian kita akan melakukan penilaian dengan membandingkan ukuran panjang dari masing-masing penggaris sehingga pada akhirnya kita dapat mengatakan bahwa “Yang ini panjang” dan “Yang ini pendek” lalu yang panjanglah yang kita ambil.. Kita tidak dapat mengadakan evaluasi sebelum melakukan aktivitas mengukur dan menilai.. Sementara itu menurut Calongesi (1995) evaluasi adalah suatu keputusan tentang nilai berdasarkan hasil pengukuran.. Sejalan dengan pengertian tersebut, Zainul dan Nasution (2001) menyatakan bahwa evaluasi dapat dinyatakan sebagai suatu proses pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes.. Tayibnapis (2000) dalam hal ini lebih meninjau pengertian evaluasi program dalam konteks tujuan yaitu sebagai proses menilai sampai sejauhmana tujuan pendidikan dapat dicapai.. Measurement (pengukuran) merupakan proses yang mendeskripsikan performance siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif (system angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dari performance siswa tersebut dinyatakan dengan angka-angka (Alwasilah et al.1996).. Senada dengan pendapat tersebut, Secara lebih ringkas, Arikunto dan Jabar (2004) menyatakan pengertian pengukuran (measurement) sebagai kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif.. Berdasarkan pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes.. Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik.

Evaluasi. adalah suatu proses yang sistematis untuk membuat perencanaan dan mengambil. suatu keputusan sejauh mana tujuan pembelajaran telah dicapai oleh peserta. didik.. D.Fungsi. Evaluasi Dalam Pembelajaran. a.Perincian. terhadap tujuan evaluasi dalam lembaga pendidikan tersebut, dan pendidikan. evaluasi setiap mata pelajaran.. Tes merupakan alat atau. prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana,. tes hasil belajar merupakan sekelompok pertanyaan atau tugas yang harus dijawab. oleh peserta didik.. Validitas ramalan dapat. dilakukan dengan mengkorelasikan hasil tes belajar yang sedang diuji dengan. kriterium yang ada.. Dengan membandingkan. dari hasil tes dari soal yang sedang dicari validitasinya dengan hasil tes soal. standar.. PENILAIAN DALAM PEMBELAJARAN. 3.Untukmemberikan informasi yang dapat digunakan. oleh guru dan peserta didik untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik.. Sumarna Surapratna dan. Muhammad Hatta (2004), mengemukakan penilaian berbasis kelas yaitu: “tes. tertulis, tes perbuatan, pemberian tugas, penilaian kinerja, penilaian proyek,. penilaian hasil kerja pesera didik, penilaian sikap, dan penilaian fortofolio.

Sama halnya dengan menilai orang lain, hal tersebut juga masuk dalam konteks evaluasi.Namun, evaluasi dalam bidang pendidikan berarti suatu proses penilaian dalam mengumpulkan dan menganalisis untuk menentukan taraf kemajuan pendidikan serta menetapkan pencapaian suatu tujuan baik untuk pendidik atau peserta didik.. Salah satu peranan penting usaha pengukuran dan penilaian pendidikan ialah untuk mengarahkan pengambilan keputusan yang berkenaan dengan apa yang harus diajarkan atau apa yang harus dipelajari dan dipraktikkan oleh para peserta didik, baik peserta didik secara perorangan, kelompok-kelompok kecil, ataupun keseluruhan kelas.. Berkenaan dengan hasil belajar, hasil pengukuran dan penilaian pendidikan tidak hanya berguna untuk pengetahuan penguasaan peserta didik atau berbagai hal yang pernah diajarkan atau dilatihkan, melainkan juga untuk memberikan gambaran tentang pencapaian program-program perguruan tinggi secara lebih menyeluruh.. Kesulitan peserta didik ini sebab-sebabnya dapat terletak pada kurang dikuasainya secara mantap isi pelajaran tertentu dan dengan demikian usaha perbaikannya berkisar pada pemantapan isi pelajaran itu.. Tes diagnostik diselenggarakan untuk mengetahui dalam bidang apa peserta didik telah atau belum menguasai kompetensi tertentu, atau dengan kata lain tes diagnostik untuk mengetahui berusaha mengungkapkan kekuatan dan/atau kelemahan peserta didik dalam bidang yang diujikan.. Untuk keperluan seleksi, khususnya yang berkaitan dengan pertimbangan mutu lulusan, tes ketepatan untuk keahlian tertentu ( proficiency test ) amat berperan.. Dalam bentuk yang lebih nyata pelayanan bimbingan dan konseling dapat berupa pemberian bantuan kepada peserta didik dalam usaha-usaha belajar, yang meliputi antara lain memilih sekolah dan jurusan yang sesuai dengan bakat dan minat, menentukan jumlah dan jenis mata kuliah yang akan diambil, memilih mata kuliah minor, perkembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, dan sebagainya.. Salah satu kegunaan hasil pengukuran dan penilaian ialah untuk menguji isi kurikulum dan pelaksanaan pengajaran.. Untuk ini semua informasi yang diperoleh melalui pengukuran dan penilaian pendidikan amatlah penting.. Hal ini semua dapat diketahui penelaahan hasil pengukuran dan penilaian pendidikan beserta berbagai sangkut pautnya.Akhir-akhir ini banyak orang tua yang berpendapat bahwa SMA-SMA yang tamatannya banyak berhasil lulus dalam ujian masuk perguruan tinggi adalah SMA-SMA yang baik.

Sejak itu, sejalan dengan kemajuan teknologi bidang komputer, maka perkembangan ultrasonografi juga maju dengan sangat pesat, sehingga saat ini sudah dihasilkan USG 3 Dimensi dan Live 3D (ada yang menyebut sebagai USG 4D).. 2.Dalam bidang ginekologi onkologi pemeriksaannya diindikasikan bila ditemukan kelainan secara fisik atau dicurigai ada kelainan tetapi pada pemeriksaan fisik tidak jelas adanya kelainan tersebut.. Berkat jasanya bagi dunia kedokteran, banyak nyawa bisa diselamatkan, hingga ia mendapat penghargaan Nobel di tahun 1901.Pada prinsipnya sinar yang menembus tubuh ini perlu dipindahkan ke format film agar bisa dilihat hasilnya.. Seiring dengan kemajuan teknologi, kini foto rontgen juga sudah bisa diproses secara digital tanpa film.. Cara pengukuran CTG hampir sama dengan doppler hanya pada CTG yang ditempelkan 2 alat yang satu untuk mendeteksi DJJ yang satu untuk mendeteksi kontraksi, alat ini ditempelkan selama kurang lebih 10-15 menit. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah agar pembaca dapat menjelaskan tentang pemeriksaan diagnostic. Terdapat faktor utama yang dapat mengakibatkan kesalahan hasil laboratorium yaitu :. PERSIAPAN UNTUK PEMERIKSAAN. Sejak itu, sejalan dengan kemajuan teknologi bidang komputer, maka perkembangan ultrasonografi juga maju dengan sangat pesat, sehingga saat ini sudah dihasilkan USG 3 Dimensi dan Live 3D (ada yang menyebut sebagai USG 4D).. Berkat jasanya bagi dunia kedokteran, banyak nyawa bisa diselamatkan, hingga ia mendapat penghargaan Nobel di tahun 1901.Pada prinsipnya sinar yang menembus tubuh ini perlu dipindahkan ke format film agar bisa dilihat hasilnya.. Seiring dengan kemajuan teknologi, kini foto rontgen juga sudah bisa diproses secara digital tanpa film.. Secara khusus CTG adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur DJJ pada saat kontraksi maupun tidak.sedangkn Secara umum CTG merupakan suatu alat untuk mengetahui kesejahteraan janin di dalam rahim, dengan merekam pola denyut jantung janin dan hubungannya dengan gerakan janin atau kontraksi rahim.

Penilaian (assessment) adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk. mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik dengan berbagai cara dan. beragam alat penilaian belajar peserta didik.. Secara khusus, dalam konteks. pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil. belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan. balik/perbaikan proses belajar mengajar, dan penentuan kenaikan kelas.. Dalam pelaksanaan kurikulum. berbasis kompetensi, pendekatan penilaian yang digunakan adalah penilaian yang. mengacu kepada kriteria atau patokan.. Dalam hal ini prestasi peserta didik. ditentukan oleh kriteria yang telah ditetapkan untuk penguasaan suatu. kompetensi.. Ada beberapa teknik yang dapat. digunakan untuk penilaian kompetensi yang dimaksud antara lain melalui tes,. observasi, penugasan, inventori, jurnal, penilaian diri, dan penilaian. antarteman yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan. peserta didik.. Ulangan adalah proses yang. dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara. berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk melakukan perbaikan. pembelajaran, memantau kemajuan dan menentukan keberhasilan belajar peserta. didik.. Penilaian dilakukan secara. menyeluruh yaitu mencakup semua aspek kompetensi yang meliputi kemampuan. pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik).. Penilaian hasil belajar oleh pendidik. dilakukan secara berkesinambungan, bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan. belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektivitas kegiatan. pembelajaran.. Penilaian hasil belajar oleh pendidik. digunakan untuk (a) menilai pencapaian kompetensi peserta didik, (b) bahan. penyusunan laporan hasil belajar, dan (c) memperbaiki proses pembelajaran.. Penilaian hasil belajar oleh. satuan pendidikan dilakukan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik. pada semua mata pelajaran.. Penilaian ini meliputi:. Penilaian. akhir digunakan sebagai salah satu persyaratan untuk menentukan kelulusan. peserta didik dari satuan pendidikan dan harus mempertimbangkan hasil penilaian. peserta didik oleh pendidik;. Penilaian hasil belajar oleh. pemerintah bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara. nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu. pengetahuan dan teknologi yang dilakukan dalam bentuk Ujian Nasional (UN).

Penilaian autentik ( Authentic Assessment ) adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.. Penilaian tersebut mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain.penilaian autentik kurikulum 2013. Penilaian autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik.. Penilaian autentik dapat dibuat oleh guru sendiri, guru secara tim, atau guru bekerja sama dengan peserta didik.. Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran, guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja.. Penilaian autentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya.. Dalam pembelajaran autentik, peserta didik diminta mengumpulkan informasi dengan pendekatan scientific, memahami aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu sama lain secara mendalam, serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang ada di luar sekolah.. Pada pembelajaran autentik, guru harus menjadi “guru autentik.” Peran guru bukan hanya pada proses pembelajaran, melainkan juga pada penilaian.. Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini.. Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.. Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.

Sedangkan teknik penilaian tidak lepas dari. jenis instrument yang digunakan dan aspek yang dinilai dalam rangka. mengumpulkan informasi kemajuan belajar peserta didik, baik yang berhubungan. dengan proses belajar maupun hasil belajar, sesuai dengan kompetensi yang harus. dikuasai.. Asesemen. autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar. peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.. Jenis-jenis. penilaian autentik terdiri atas : penilaian kinerja, evaluasi diri, esai,. proyek dan portofolio.. informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses. pembelajaran yang dianggap terbaik, hasil tes (bukan nilai), atau informasi. lain yang relevan dengan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dituntut. oleh topik atau mata pelajaran tertentu.. Atas dasar penilaian itu,. guru dan / atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai tuntutan. pembelajaran.. 3.Sikap. terhadap proses pembelajaran. Asesemen. autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar. peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.. Jenis-jenis. penilaian autentik terdiri atas : penilaian kinerja, evaluasi diri, esai,. proyek dan portofolio

Dengan evaluasi, orangtua, pendidik, dan peserta didik dapat meramalkan. kelanjutan pendidikan yang akan ditempuh selanjutnya sebagai usaha untuk. menambah ilmu.. Dengan. diketahuinya kemampuan peserta didik, guru akan mengerti, peserta didik mana. yang perlu mendapat perhatian khusus dan peserta didik mana yang perlu. penambahan pengayaan.. Dengan evaluasi, orangtua, pendidik, dan peserta didik dapat meramalkan. kelanjutan pendidikan yang akan ditempuh selanjutnya sebagai usaha untuk. menambah ilmu.. Dengan. diketahuinya kemampuan peserta didik, guru akan mengerti, peserta didik mana. yang perlu mendapat perhatian khusus dan peserta didik mana yang perlu. penambahan pengayaan.. Dengan. diketahuinya kemampuan peserta didik, guru akan mengerti, peserta didik mana. yang perlu mendapat perhatian khusus dan peserta didik mana yang perlu. penambahan pengayaan.. Dengan. diketahuinya kemampuan peserta didik, guru akan mengerti, peserta didik mana. yang perlu mendapat perhatian khusus dan peserta didik mana yang perlu. penambahan pengayaan.. Dengan. diketahuinya kemampuan peserta didik, guru akan mengerti, peserta didik mana. yang perlu mendapat perhatian khusus dan peserta didik mana yang perlu. penambahan pengayaan.

1 Dr. Bambang Subali, M.S.BAB I PRINSIP PENILAIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan dinyatakan bahwa ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan, melakukan perbaikan pembelajaran, dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik.. peserta diik mengformapeserdengan Dari uraian di di atas tampak bahwa demikian evaluasi pencapaian belajar atau evaluasi hasil belajar meliputi evaluasi sumatif (sumative evaluation) yang dikenakan pada subjek belajar sebagai penempuh program pembelajaran, guru sebagai perancang dan pelaksana program (yang rancangannya diujudkan dalam bentuk kurikulum, silabus sampai dengan RPP), dalam hubungannya dengan efektivitas kegiatan belajar dalam suatu program tertentu, sedangkan evaluasi formatif (formative evaluation) yang dilakukan untuk mengetahui keberhasilan subjek belajar sebagai peserta program pembelajaran selama berlangsungnya proses pembelajaran.. Evaluasi formatif didasarkan pada hasil penilaian formatif selama subjek belajar sebagai penempuh program pembelajaran mengikuti proses pembelajaran dalam kaitannya dengan penyelenggaraan program, dan tujuannya untuk: a. menetapkan langkah-langkah/urutan kegiatan belajar selanjutnya agar supaya lebih efektif dan efisien; b. pendalaman dan pernantapan penguasaan perilaku yang ditargetkan; c. mendiagnosis kesulitan belajar, dalam arti bahwa subjek belajar yang mendapat nilai jelek identik belum menguasai perilaku yang ditargetkan; d. mencari cara mengatasi kesulitan belajar jika subjek belajar dinyatakan gagal, berdasar kegiatan belajar yang telah dilakukan; e. umpan balik bagi guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran sehingga mengetahui seberapa jauh tujuan yang ditetapkan sudah dapat dicapai; f. meramalkan seberapa jauh keberhasilan peserta program belajar dalam mengikuti penilaian sumatif; g. mengetahui seberapa jauh seluruh subjek belajar sebagai penempuh program pembelajaran akan berhasil dalam mengikuti proses pembelajaran sampai akhir program, berdasar kecakapan dan keterampilan yang dikuasainya sekarang, dalam konteks bahwa subjek belajar sebagai masukan; h. mengetahui subjek belajar yang mana yang harus dibantu melalui program remediasi agar ia dapat berhasil menempuh program yang ditempuh; i. mediagnosis. Dalam. Dalam hal ini hasil penilaian benar-benar dijadikan dasar untuk memperbaiki proses pembelajaran yang diselenggarakan oleh peserta didik.. Oleh karena itu, pendidik menginformasikan prosedur dan kriteria penilaian kepada peserta didik.. b. Jika dilakukan selama proses, maka tugas guru untuk melakukan remediasi terhadap subjek belajar yang mengalami kesulitan belajar, sehingga tidak terjadi. Kesalahan tersebut dalam proses pengukuran juga dapat diakibatkan karena kesalahan dalam menerapkan alat ukur terhadap pihak yang akan diukur; maksudnya, apakah pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam alat ukur tersebut benar-benar cocok untuk pihak yang akan diukur.. Dituliskan bentuk tes yang dipilih seperti tes keterampilan tertulis, tes identifikasi, tes simulasi, atau tes contoh kerja. Misalnya, jika yang akan diukur kemampuan kognitif seseorang, dan berdasarkan teori-teori yang ada orang yang bersangkutan. Jika setiap butir soal sudah mencerminkan indikator dari kemampuan yang akan diukur maka otomatis hasil pengukuran yang diperoleh benar-benar. BAB V PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN A. PENGEMBANGAN TES TERTULIS UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN KOGNITIF Tes tertulis untuk mengukur kemampuan kognitif dapat dibedakan untuk tujuan mengukur kemampuan kognitif tingkat rendah (kemampuan mengetahui, memahami, dan menerapkan), dan kemampuan kognitif tingkat tinggi (menganalisis, mengevaluasi, menyintesis, berimajinasi, dan mengkreasi).

sistem penilaian yang baik akan. mendorong para pendidik untuk menentukan strategi mengajar yang baik dalam. memotivasi peserta didik yang lebih baik .. Menurut TRIANTO (2007:87) penilaian merupakan serangkaian. kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan data tentang proses dan. hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan. berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.. Jadi,. evaluasi adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara. sistematis dan berkesinambungan serta menyeluruh tentang proses dan hasil. belajar peserta didik sehingga dapat dijadikan informasi dan patokan dalam. pengambilan sebuah keptusan mengenai tuntas tidaknya, paham atau tidak paham. siswa dalam proses pembelajaran.. Penilaian atau. evaluasi di PAUD merupakan usaha mendapatkan berbagai informasi secara berkala,. berkesinambungan serta menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan. daan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui kegiatan belajar.. Penilaian. ini juga merupakan upaya untuk mendapatkan informasi atau data secara. menyeluruh yang menyangkut semua aspek kepribadian anak terhadap proses dan. hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai melalui proses. pembelajaran, meliputi perkembangan fisik motorik, sosial, emosi, kognitif,. moral, dan nilai-nilai agama, serta seni.. Percakapan adalah penilaian yang. dilakukan melalui percakapan atau cerita antara anak dan guru atau antara anak. dengan anak.. Ada dua macam percakaan dalam rangka penilaian yang dapat dilakukan, yaitu. pertama penilaian percakapan yang berstruktur dimana percakapan dilakukan. dengan sengaja oleh guru dengan menggnakan waktu khusus dan menggnakan pedoman. walau sederhana contoh pada berdo’a.. Sedangkan yang kedua penilaian percakapan. yang tidak berstruktur dimana percakapan dilakukan antara guru dan anak tanpa. persiapan, dimana saja, kapan saja, dan sedang melakkan kegiatan lain contoh. mengucapkan salam pada saat bertemu.. Pada dasarnya pengamatan. dapat dilakukan setiap waktu dan siapa saja, sehinggah ada orang yang. menyatakan bahwa pengamatan merupakan salah satu teknik penilaian yang. sederhana dan tidak memerlukan keahlian yang luar biasa.. Catatan anekdot merupakan salah satu. bentuk pencatatan tentang gejala tingkah laku yang berkaitan dengan sikap dan. perilaku anak yang khusus, baik yang positif maupun yang negative.. Penilaian dengan teknik ini biasanya di tujukan untuk anak. yang memerlukan penanganan khusus, namun teknik ini harus melibatkan orang yang. ahli dalam bidang permasalahan khusus tersebut.. Menurut lin dan gronlund ( siti. isyah 2007: 6.5) evaluasi dalah proses yang sistematis untuk pengumpulan,. penganalisisan dan penafsiran informasi untuk menentukan sejauh mana anak dapat. mencapai tujuan pembelajaran.. Evaluasi berfokus pada nilai data yang di gunakan. untuk tujuan khusus evaluasi melibatkan analisis yang sistematis tentnag fakta. atau keterangan untuk membuat keputusan normatif tentangmaksud dari hasil. evaluasi tersebut.

Pengertian Kurikulum Merdeka Belajar, Latar Belakang, Keunggulan dan Perbedaan Dengan Kurikulum Sebelumnya Sahabat guru Sebelum kita mengetahui apa itu kurukulum merdeka terlebih dahulu kita bahas apa itu kurikulum dan apa itu merdeka belajar.. Pertama, di wilayah dengan akses internet dan perangkat digital memadai, serta didukung oleh guru dan siswa yang melek digital pembelajaran dapat berjalan relatif baik dengan kelas di ruang maya (interactive virtual classroom) dan mengoptimalkan aplikasi belajar daring.. Temuan serupa juga dihasilkan dari kajian Puslitjak dan INOVASI yang menunjukkan bahwa pada kelas awal, hilangnya kemampuan belajar siswa dalam hal literasi dan numerasi sebelum dan selama pandemi setara dengan 5-6 bulan setelah 12 bulan belajar dari rumah (Puslitjak dan INOVASI, 2020).. Selanjutnya, perbedaan kurikulum prototipe dengan kurikulum 2013 bahwa tidak lagi dikenal istilah kompetensi inti maupun kompetensi dasar melainkan diganti dengan capaian pembelajaran yang ditandai dengan hasil yang telah dicapai dalam bentuk sikap maupun keterampilan siswa dalam satu kesatuan yang saling terkait erat dan berdampak langsung pada kompetensi tiap siswanya.. Pertama Kompetensi Kurikulum 2013 terlalu luas, sulit dipahami, dan diimplementasikan oleh guru.Kurikulum yang dirumuskan secara nasional belum disesuaikan sepenuhnya oleh satuan pendidikan dengan situasi dan kebutuhan satuan pendidikan, daerah, dan peserta didik.Mapel informatika bersifat pilihan, padahal kompetensi teknologi merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki oleh peserta didik pada abad 21.. Pendekatan tematik (jenjang PAUD dan SD) dan mata pelajaran (jenjang SMP, SMA, SMK, Diktara, dan Diksus) merupakan satu-satunya pendekatan dalam Kurikulum 2013 tanpa ada pilihan pendekatan lainStruktur kurikulum pada jenjang SMA yang memuat mata pelajaran pilihan (peminatan) kurang memberikan keleluasaan bagi siswa untuk memilih selain peminatan IPA, IPS, atau Bahasa.. Komponen perangkat pembelajaran terlalu banyak dan menyulitkan guru dalam membuat perencanaan.Rumusan kompetensi yang detil dan terpisah-pisah sulit dipahami sehingga guru kesulitan menerjemahkan dalam pembelajaran yang sesuai filosofi Kurikulum 2013.. Masih banyak pengawas, kepala sekolah, dan guru yang memiliki pemahaman kurang tentang kerangka dasar, diversifikasi, dan konsep implementasi Kurikulum 2013.Sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan monitoring implementasi Kurikulum 2013 belum berdampak optimal terhadap pemahaman pengawas, kepala sekolah, dan guru, kemampuan danDari poin di atas di atas, diperoleh terdapat 3 alasan mengapa meninggalkan kurikulum 2013 dan beralih ke kurikulum merdeka, yaitu:. Hal ini juga di buktikan oleh hasil riset yaitu bahwa selama pandemi, saat satuan pendidikan bisa memilih kurikulum 2013, kurikulum darurat atau kurikulum prototipe yang saat ini menjadi kurikulum merdeka.. Dan merdeka untuk Sekolah maksudnya yaitu sekolah memiliki wewenang untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik.

Videos

1. NCIS Cast: Then and Now (2003 vs 2021)
(Crezy Lifestyle)
2. Formative Assessments: Why, When & Top 5 Examples
(Teachings in Education)
3. Mistakes Parents Can Avoid: Underestimating Evaluations
(Your Special Education Rights)
4. Machine Learning Full Course - Learn Machine Learning 10 Hours | Machine Learning Tutorial | Edureka
(edureka!)
5. A Closer Look At...Alzheimer's Disease
(University of California Television (UCTV))
6. Tes Psikotes Kolerasi Kata 50 Soal Beserta Jawabannya | Part 1
(Random Email Fadlan S)

You might also like

Latest Posts

Article information

Author: Prof. Nancy Dach

Last Updated: 09/23/2022

Views: 5896

Rating: 4.7 / 5 (77 voted)

Reviews: 84% of readers found this page helpful

Author information

Name: Prof. Nancy Dach

Birthday: 1993-08-23

Address: 569 Waelchi Ports, South Blainebury, LA 11589

Phone: +9958996486049

Job: Sales Manager

Hobby: Web surfing, Scuba diving, Mountaineering, Writing, Sailing, Dance, Blacksmithing

Introduction: My name is Prof. Nancy Dach, I am a lively, joyous, courageous, lovely, tender, charming, open person who loves writing and wants to share my knowledge and understanding with you.